Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Berterimakasihlah

Di pinggir pohon besar yang daunnya rindang terdapat seekor Keledai yang sedang memilah makanannya untuk dikemas dan dibawa pulang. Tidak butuh waktu lama untuk melakukan semua itu karena dia terkenal gesit dan teliti. Keledai itu berjalan menyusuri hutan berharap tidak datang hujan juga gelapnya jalan. Jalan kali ini tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, karena tidak lama setelah cerah berganti mendung membuatnya kesusahan untuk berjalan. Kele dai ini takut dengan mendung, karena baginya mendung adalah tanda langit akan marah dengan menyabetkan petir yang kerasnya menyayat ruh. Keledai masih yakin, dirinya akan tetap selamat dan sampai di tempat berteduhnya. Dia bertemu Beruang, saat jalan pulang tinggal separuhnya lagi. "Beruang. Kenapa kau masih di sini?" Tanya Keledai sambil menyapa sahabatnya si Beruang. "Ini Keledai, aku takut kalau sudah datang mendung. Bagiku mendung adalah tanda langit akan runtuh." Katanya, polos. "Hahaha, jelas...

Lillah akan membawa berkah

Malam itu, seekor burung hinggap di atas jendela rumah tua. Dia merasa dirinya paling tidak disayang Allah, setiap kebahagiaan yang dia dapatkan selalu musnah, bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa dia bahagia, dia selalu merasa dia tidak diizinkan Allah untuk tersenyum. Dan kini dia menjumpai Kelelawar yang masih bergelantungan di sebuah kayu atap rumah tua itu, dia ingin menanyakan kabar pemilik rumah itu kepadanya. "Hai, Kelelawar malas." Sapanya pada sang Kelelawar. Sontak sang Kelelawar terbangun dan mengepakkan sayapnya, lalu berdiri di dekat burung tadi. "Kenapa? Masih sore seperti ini kau berani membangunkan mimpi indahku?" Kata Kelelawar, dia sedikit marah. "Yah, kamu ini bagaimana ini sudah larut malam, masih aja dianggap sore." Kata burung, dia seperti ikut sengit menanggapi ungkapan Kelelawar. "Ah sudahlah, kenapa kamu kesini?" Tanya sang Kelelawar. "Aku hanya ingin tanya satu hal padamu." Jawab burung. "Oke...

Selalu berlomba-lomba dalam kebaikan

Aku mencintai orang-orang sholeh, meski mungkin aku belum jadi bagian dari mereka. Aku berharap suatu hari Allah ta'ala akan membukakan hatiku untuk menjadi bagian dari mereka. Aku membenci orang maksiat, meski mungkin aku masih tergolong golongan mereka dan aku berdoa selalu semoga perlahan aku akan keluar dari kemaksiatan sepenuhnya. ( Imam Syafi'i )

Just for my honey to be

Aku terdiam Meraba asa dengan iba Berharap akan datang masanya aku berbahagia Dengan kamu pujaan Teman setia segala cobaan Teman seirama dikala senja menyapa Teman terindah ketika kelabu menyapa Sampai suatu hari akan tiba masanya Aku mencintaimu dengan sederhana Aku memelukmu penuh rasa Aku menatapmu Malam terakhirku mengamati fatamorgana cinta Biarkan aku fokus memegang ambisi Walau kadang membisu mengharapkan gandengan tanganmu Cuek atau tak peduli Itulah aku yang rindu disayangi