Berterimakasihlah
Di pinggir pohon besar yang daunnya rindang terdapat seekor Keledai yang
sedang memilah makanannya untuk dikemas dan dibawa pulang. Tidak butuh
waktu lama untuk melakukan semua itu karena dia terkenal gesit dan
teliti. Keledai itu berjalan menyusuri hutan berharap tidak datang hujan
juga gelapnya jalan.
Jalan kali ini tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, karena tidak lama setelah cerah berganti mendung membuatnya kesusahan untuk berjalan. Keledai ini takut dengan mendung, karena baginya mendung adalah tanda langit akan marah dengan menyabetkan petir yang kerasnya menyayat ruh.
Keledai masih yakin, dirinya akan tetap selamat dan sampai di tempat berteduhnya. Dia bertemu Beruang, saat jalan pulang tinggal separuhnya lagi.
"Beruang. Kenapa kau masih di sini?" Tanya Keledai sambil menyapa sahabatnya si Beruang.
"Ini Keledai, aku takut kalau sudah datang mendung. Bagiku mendung adalah tanda langit akan runtuh." Katanya, polos.
"Hahaha, jelas tidak akan terjadi Beruang. Hanya saja langit akan menyambarkan petir untuk kita." Kata Keledai, menjelaskan. Padahal sebenarya dia lebih takut.
"Ya intinya sama, lalu kamu mau kemana Keledai?" Tanya Beruang lagi.
"Pulang dong ke rumah, masa mau ronda di tengah hutan." Jawab Keledai dengan santainya.
"Oh iya. Boleh aku ikut?" Tanya Beruang, "Soalnya aku sudah sangat ingin pulang sedari tadi tapi masih saja tidak berani." lanjutnya.
"Okey lah, mari kita pulang bersama." Ajak Keledai
Dan mereka pun jalan menyusuri hutan itu, sampai benar-benar langit terlihat mulai menamparkan petirnya.
"Itu kan? Aku bilang juga apa, aku takut sekali. Petirnya pasti akan mengejar kita." Kata Beruang, tergesa-gesa.
"Udah Beruang, tenang aja." Nasehat Keledai, menenangkan. Padahal dia lebih takut sebenarnya.
Mereka sudah hampir sampai, Beruang berlari menuju rumahnya yang sudah terlihat oleh matanya. Meninggalkan Keledai yang masih berjalan agak lambat karena mambawa beban makanan yang tadi dikemasnya di hutan.
"Tidak tahu terimakasih." Sergah Keledai. Malas melanjutkan.
Hidup itu bukan masalah sepele, kadang yang sepele pun masih saja membawa akibat yang sangat besar. Berterimakasih itu bukanlah kesunahan, dia bahkan kewajiban yang harus selalu dilakukan. Menghargai sedikit apa yang telah orang lain lakukan, hanya sedikit. Ya, sejengkal pun tidak masalah asal kau tidak payah dan telah lelah.
Jalan kali ini tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, karena tidak lama setelah cerah berganti mendung membuatnya kesusahan untuk berjalan. Keledai ini takut dengan mendung, karena baginya mendung adalah tanda langit akan marah dengan menyabetkan petir yang kerasnya menyayat ruh.
Keledai masih yakin, dirinya akan tetap selamat dan sampai di tempat berteduhnya. Dia bertemu Beruang, saat jalan pulang tinggal separuhnya lagi.
"Beruang. Kenapa kau masih di sini?" Tanya Keledai sambil menyapa sahabatnya si Beruang.
"Ini Keledai, aku takut kalau sudah datang mendung. Bagiku mendung adalah tanda langit akan runtuh." Katanya, polos.
"Hahaha, jelas tidak akan terjadi Beruang. Hanya saja langit akan menyambarkan petir untuk kita." Kata Keledai, menjelaskan. Padahal sebenarya dia lebih takut.
"Ya intinya sama, lalu kamu mau kemana Keledai?" Tanya Beruang lagi.
"Pulang dong ke rumah, masa mau ronda di tengah hutan." Jawab Keledai dengan santainya.
"Oh iya. Boleh aku ikut?" Tanya Beruang, "Soalnya aku sudah sangat ingin pulang sedari tadi tapi masih saja tidak berani." lanjutnya.
"Okey lah, mari kita pulang bersama." Ajak Keledai
Dan mereka pun jalan menyusuri hutan itu, sampai benar-benar langit terlihat mulai menamparkan petirnya.
"Itu kan? Aku bilang juga apa, aku takut sekali. Petirnya pasti akan mengejar kita." Kata Beruang, tergesa-gesa.
"Udah Beruang, tenang aja." Nasehat Keledai, menenangkan. Padahal dia lebih takut sebenarnya.
Mereka sudah hampir sampai, Beruang berlari menuju rumahnya yang sudah terlihat oleh matanya. Meninggalkan Keledai yang masih berjalan agak lambat karena mambawa beban makanan yang tadi dikemasnya di hutan.
"Tidak tahu terimakasih." Sergah Keledai. Malas melanjutkan.
Hidup itu bukan masalah sepele, kadang yang sepele pun masih saja membawa akibat yang sangat besar. Berterimakasih itu bukanlah kesunahan, dia bahkan kewajiban yang harus selalu dilakukan. Menghargai sedikit apa yang telah orang lain lakukan, hanya sedikit. Ya, sejengkal pun tidak masalah asal kau tidak payah dan telah lelah.
Komentar
Posting Komentar