Perjuangan setengah hati

Assalamualaikum, namaku Asfi. Aku baru saja lulus SMP dan akan melanjutkan pendidikanku ke SMA. Sempat aku berpikir ingin tinggal di pesantren selama aku SMA. Dan Alhamdulillah, aku diperbolehkan menjadi santri oleh keluargaku.

“Ya sudah Fi. Kalau kamu benar-benar mau belajar di pesantren, Umi izinkan. Tapi kalau kamu cuma main-main, lebih baik kamu di rumah aja.” Kata Umiku saat aku meminta izin belajar hidup dan mencari ilmu di pesantren.
“Iya Umi, semoga Asfi bisa berhasil. Menggugurkan kewajiban sebagai seorang muslimah untuk belajar. Asfi hanya berharap dan meminta doa umi untuk Asfi.” Kataku sambil memantapkan tekad yang hampir bulat.
“Iya Fi. Semuanya ada pada kamu. Apapun yang kamu lakukan, apapun yang kamu inginkan. Umi hanya mampu berdoa, dan tidak bisa membekalimu dengan apa-apa.” Nasehatnya.
“Amin. Semoga Asfi selalu ingat nasihat Umi. Dan Allah juga akan meridhoi langkah Asfi ini.” Kataku.
“Amin, semangat sayang.” Kata Umiku lalu memelukku.

Aku begitu merasakan kasih sayang Umiku yang tidak pernah luntur beliau berikan untukku. Aku hanya berharap, semoga aku mampu membahagiakannya di dunia juga di akhirat nanti. Amin.

Aku adalah anak sulung, ayahku sudah pergi. Aku tinggal bersama Ibu yang kami panggil Umi, Adik dan Kaka tiriku. Saat aku pergi ke pesantren aku hanya diantar oleh pamanku. Beliaulah yang selalu peduli denganku. Umiku hanya menitipkan doa kesuksesan untukku.
“Fi. Kamu ada uang sakunya gak.” Tanya Pamanku.
“Ada Paman.” Jawabku singkat.
“Dikasih siapa Fi.” Tanya beliau.
“Ini Paman. Uang yang kemaren aku dapat dari Juara Olimpiade Matematika masih aku simpan. InsyaAllah cukup untuk biaya di pesantren selama satu semester ini.” Kataku meyakinkan Paman.
“Owalah Asfi. Kamu ini, bikin paman semakin bangga. Kamu sungguh prihatin dalam mencari ilmu. Paman yakin kamu akan jadi orang besar nantinya.” Doa Paman untukku.
Amin, terimakasih Paman. Mohon doanya.” Kataku sambil mencium tangan Paman.
“Iya Fi. Allah gak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang benar-benar niat, benar-benar bersungguh-sungguh.” Imbuh Paman, membuatku semakin bersemangat.
“Amin.” Kataku.

Sampai aku di pesantren, aku dilihat banyak orang. Karena aku hanya berjalan berdua dengan Paman. Karena biasanya saat masa tahun ajaran baru, semua keluarga dari para santri akan datang secara bersama-sama untuk mengantarkan santri tersebut. Tapi aku tidak dan itu bukanlah masalah yang harus dipermasalahkan.

Sesampainya di rumah Pak Kiai Fauzan (nama pengasuh pondokku), kami bersilaturrahmi. Pamanku sedang memasrahkanku pada beliau. Aku hanya mendengarkan saja. Dan aku mendapatkan satu nasehat dari beliau, “Syarat jadi santri disini itu harus taat, mencari barakah, hidup sederhana. Ingat tujuan kesini itu mau ngapain.” Kata-kata itu sungguh masuk di otakku.

Aku hanya tertunduk pertanda aku paham dengan apa yang harus aku lakukan di sini. Setelah selesai, aku pun diantar pengurus pondok ke kamarku. Aku bertemu dengan teman-teman baruku dan aku disambut dengan ramah oleh mereka.
“Ya udah Fi, Paman tinggal dulu ya. Semoga berhasil. Mungkin Paman akan datang ke sini lagi saat pergantian semester.” Katanya. Beliau seperti cemas saat akan meninggalkanku.
“Iya Paman. Itu bukanlah masalah. Asfi bisa kok kalau gak di tengok. Lagi pula doa Paman selalu menyertai Asfi. Iya kan.” Kataku. Berharap mampu meyakinkan hatinya yang cemas.
“Kamu ini. Ya sudah ya, Paman balik dulu. Hati-hati di sini. Jaga kesehatan, jangan lupa belajar, jangan menyerah. Ingat Allah selalu, apapun yang terjadi.” Nasehatnya.

Aku hanya tersenyum dan mencium tangannya lalu memeluknya. Inilah Paman yang selalu aku anggap adalah Ayah kandungku. Paman pergi, meninggalkanku yang masih termenung mengamati langkah-langkah kecilnya. Padahal tadi aku melangkah bersama pijakan-pijakan kokohnya. Tapi.. ah sudahlah, aku harus membuka mataku lebar-lebar. Langkah yang pertama ini aku niatkan hanya mengharap ridho Allah. Amin.

Satu bulan di pesantren, jauh dari keluarga. Umi yang terutama. Satu bulan ini juga baru ada kegiatan mengaji, aku juga ingin ikut mengaji. Tapi aku sadar, uang saku yang aku miliki adalah uang saku untuk bayar tanggungan di pondok selama enam bulan ke depan.

Namun dengan terpaksa aku mengambil uang bulanan itu untuk membeli kitabku, ternyata kitabnya banyak sehingga aku tidak membeli satu. Aku membeli semua yang memang aku butuhkan.

Uang bulan pertama aku disini sudah aku bayarkan, tinggal uang bulan ke-2 yang belum aku setorkan. Alhamdulillah masih cukup untuk dibayarkan, hingga akhirnya akupun bergegas membayarkan uang itu ke pengurus pondokku.
“Assalamualaikum Mbak.” Sapaku, menyapa Mbak-mbak pengurus yang terkenal menguras dan megiris hati katanya.
“Waalaikumussalam. Iya Asfi, ada apa?” Tanya Mbak Nida.
“Ini Mbak, mau bayar makan bulan ini.” Kataku.
“Oh iya. Ntar dulu ya, aku ambil bukunya.” Katanya.
“Iya Mbak, terimakasih.” Kataku.
“Ini kwitansinya. Disimpen ya, takutnya aku salah nyatetnya.” Katanya sambil menyerahkan kertas kwitansi padaku.
“Iya Mbak, terimakasih banyak. Kalau gitu aku langsung ke kamar aja. Assalamualaikum.” Aku pamit.
“Oh iya. Terimakasih banyak. Waalaikumussalam.” Jawabnya.

Aku kembali ke kamarku, bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah aku begitu antusias mendengar materi yang dijelaskan oleh Guru Biologi. Sampai pada akhirnya, materi hari ini ditutup dengan PR karena soal yang dikerjakan di papan tulis putih itu belum selesai.
“Ya sudah, untuk PR saja soal berikutnya. Harap besok dikumpulkan.” Kata Ibu Guru Biologi.
“Iya Bu.” Jawab kami kompak.
“Mari rapikan buku-buku kalian lalu berdoa pulang.” Perintahnya.

Dengan semangat, kami menata buku-buku yang berada di laci kami. Mengamati lorong-lorongnya, siapa tahu ada sesuatu yang tertinggal. Setelah semuanya menaruh tas atau buku-buku mereka di atas meja, ketua kelaspun mulai memimpin berdoa pulang.

Tiga bulan disini, ternyata aku hanya mampu membayar setengah dari tanggungan uang makan. Yaaa.. aku masih berhutang setengah. Dan aku tidak mau uang ini nantinya habis, jadi aku putuskan untuk segera ke kamar pengurus.
“Assalamualaikum Mbak.” Sapaku saat aku memasuki kamar pengurus.
“Waalaikumussalam Asfi.” Jawab Mbak Shena.
“Mbak Nida, ada Mbak?” Tanyaku.
“Oh Nida. Mau bayar makan ya.” Tanyanya.
“Iya Mbak.” Jawabku singkat.
Mbak Nida keluar dari balik pintu kamarnya. Dan membawa buku administrasi keuangan.
“Assalamualaikum Mbak.” Sapaku.
“Iya Asfi. Waalaikumussalam, maaf ya. Habis ngaji tadi sama Ibu Nyai.” Jelasnya.
“Oh iya Mbak, gak apa-apa. Ini Mbak. Aku mau bayar uang bulan ini, tapi setengahnya aja. Soalnya uangku gak cukup. Tapi insyaAllah aku bisa ngelunasin secepetnya.” Kataku, dengan nada sedikit tidak enak.
“Oh gitu ya, ya gak apa-apa sih.” Katanya dengan santai, mengambil buku administrasi keuangan yang tadi ditaruhnya di lantai, lalu menuliskan namaku di kwitansi.

Aku menyerahkan lembaran terakhirku. Dan menerima bukti pembayaran berupa kwitansi. Aku meninggalkan kamar pengurus dengan sedikit tenang juga sedikit bingung, karena aku sedang memikirkan bagaimana dan dengan apa aku akan melunasi penunggakan makan untuk bulan ini.

Aku berjalan tanpa ekspresi. Duduk di kursi yang berada di depan kamarku, mengamati angin sambil termenung. Aku terdiam tanpa ada yang akan mengganggu jalan pikiran yang sedang aku tuju. Namun, Fia datang secara tiba-tiba dan membuat semua lamunanku hilang bersama angin yang semakin melayang-layang.
“Eh. Hayo, kenapa kamu?” Tanya Fia penasaran sambil duduk di sebelahku.
“Eh kamu. Gak apa-apa kok.” Jawabku menutupi.
“Masa, kamu gak usah bohongin aku deh.” Katanya sambil menatap ke wajahku.
“Ini loh Fia, aku mau bikin usaha tapi apa ya.” Tanyaku pada Fia.
“Lo, emang ada apa?” Tanya Fia.
“Ini Fi. Aku baru bayar makan tapi cuma setengahnya. Soalnya kemaren duit aku buat beli kitab.” Kataku.
“Hadeeh.. ya udah, coba deh. Kamu bikin usaha laundry aja di sini. Lagian kan kamu masih punya waktu luang.” Sarannya padaku.
“Loh maksudnya gimana?” Tanyaku tidak mengerti.
“Ini loh. Kamu gak usah pake mesin cuci. Kamu manfaatin tangan kamu untuk hal ini.” Jelasnya.
“Yayaya. Kamu bener. Ya udah aku mau mikir dulu, tentang gimana nanti teknisnya.” Jawabku.
“Iya gak usah kelamaan juga lah Fi.” Guraunya padaku.
“Siap lah. Sebentar doang kok.” Aku tersenyum.

Setelah dua hari berfikir dan aku merasa yakin, akupun mulai menawarkan jasaku kepada satu per satu teman kamarku. Dan Alhamdulillah, ada yang mempercayaiku dan akhirnya mendukung agenda krisisku.
“Na, kamu mau nitip nggak hari ini.” Tanyaku pada Dina.
“Oh. Iya boleh Fi. Di tempat biasa ya.” Jawab Dina padaku.

Baju-baju Dina berada di dekat anak tangga. Jadi, aku harus kesana untuk mengambilnya. Dan menghampiri Sinta untuk menawarkan jasa ini juga kepadanya.
“Sin. Seperti biasa kan?” Tanyaku.
“Iya Fi. Makasih ya.” Kata Sinta.
“Sama-sama ya. Kamu juga udah mau ngebantuin aku.” Kataku. Lalu pergi.

Hari libur di pondok, aku berencana memadatkan jadwal kegiatanku. Dengan bisnis baruku yang baru berjalan satu minggu ini. Alhamdulillah, berjalan lancar meskipun aku teringat dengan pesan Ibu Nyai saat aku mengaji dengannya kemarin malam. Beliau berkata bahwa, janganlah kalian mencari kehidupan di pondok tapi hidupilah pondok. Namun aku tidak menyurutkan semangatku, karena bagiku ini bukanlah hal yang memalukan untuk dilakukan. Aku memanfaatkan tanganku untuk membantu orang. Bukan untuk mencuri yang artinya mengambil hak orang lain.

Aku menatap jarum jam yang berada di dalam Musholla Pondok. Menunjukan pukul empat sore. Aku harus menyelesaikan semuanya. Karena setelah jamaah sholat ashar adalah agenda mengaji untuk seluruh santri.
“Fi. Kayaknya masih banyak tanggungan kamu.” Kata Ufi. Dia menghampiriku. Nadanya begitu khawatir dengan apa yang sedang aku hadapi.
“Santai aja. Ntar selesai kok.” Jawabku bersemangat.
“Iya. Aku tahu kok. Kamu pekerja keras banget. Semoga Allah selalu memudahkan segala urusanmu ya Asfi.” Kata Ufi. Lalu tersenyum dan meninggalkanku.

Aku hanya mengaminkan doanya. Semoga Engkau selalu memudahkan jalan dan urusan hamba-MU Ya Hadii. Amiin.
Teeeeettttt.. Teeetttttt.. Teeeetttt... 

Bunyi bel itu aku paham. Itu bel sholat jamaah. Aku harus bergegas, tinggal sedikit lagi. Alhamdulillah aku selesai sebelum sholat berjamaah itu selesai. Artinya, aku tidak akan kena ta’ziran (hukuman). Walaupun sebenarnya hampir saja, dan hampir juga membuatku dihukum.

Aku menjemur pakaian pelangganku dengan rasa senang. Semoga Allah menghendaki apa yang aku lakukan. Panasnya mentari membuatku semakin bersemangat. Awan yang berlarian saling berkejaran itu semakin menceriakan wajah langit yang mempesona biru walau ditemani senja.

Sudah hampir satu bulan aku membuka usaha laundry ini, tapi Allah berkehendak lain. Uang yang aku kumpulkan sedikit demi sedikit tidak menemui batas yang harus diperoleh. Hingga pada akhirnya membuatku ‘tak patah galah’ untuk tetap bersabar dan mencari. Hingga pada akhirnya, aku dipanggil pengurus pondok untuk ke kamarnya.
“Asfi, kamu disuruh ke kamar pengurus. Katanya ada yang penting.” Kata Fia mengingatkanku.
“Oh iya Fi. Terimakasih. Ntar aku ke sana.” Jawabku.

Aku sedang menghitung recehan ini. Recehan yang aku peroleh dan akan aku bayarkan untuk tagihan bulan kemarin juga bulan ini. Aku mantapkan kaki ini melangkah.
“Assalamualaikum Mbak.” Sapaku.
“Waalaikumussalam.” Jawabnya dan mengisyaratkanku untuk duduk.

Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Kamar ini terasa panas dan pengab, sehingga membuat keringatku keluar dengan deras. Dan dihadapanku kini telah bersanding Mbak-mbak pengurus yang akan menyidangku. Aku seperti tahanan yang akan segera dihakimi. 
“Asfi, kenapa kamu sampai nunggak?” Tanya Mbak Shena megawali, seperti sudah mulai menginterogasiku.
 “Maaf Mbak, kemaren saya juga baru bayar setengahnya. Ini saya mau bayar sisa bulan kemarin. Soalnya, saya belum ada uang lagi.” Jelasku.
“Loh, kok bisa begitu. Bayar makan itu, harus di bayar pas bulan itu juga. Kalau gak? Ya itu bakal dapet surat peringatan dari pondok.” Kata Mbak Nida.
“Emang dari mana ceritanya. Kamu bisa sampai gak bayar Fi?” Tanya Mbak Jazil.
“Coba deh, kamu jelasin ke kita.” Kata Mbak Mita. Dia terlihat seperti sedang mengeroyokku juga.

Aku ceritakan semuanya, bahwa aku tinggal disini hanya membawa uang yang aku kira cukup untuk satu semester ini. Aku juga bercerita, kalau aku sudah berusaha mengumpulkan uang dengan membuka usaha laundry di sini. Aku juga bercerita, bahwa aku belum mendapatkan uang yang cukup untuk membayar tagihan makan.
“Iya, kami memahami kamu Fi. Tapi, kami harus tetap memberikan surat tagihan ini sama Wali kamu.” Kata Mbak Jazil.
“Ya boleh Mbak, tapi mau dikasih ke siapa?” Tanyaku.
“Iya dikasih ke Orang Tua kamu atau Wali kamu. Pas mereka dateng ke sini buat nengok kamu.” Jawab Mbak Mita.
“Aduh, masalahnya ini Mbak. Saya gak pernah ditengokin.” Kataku.

Semuanya bergumam, seperti tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
“Ya sudah. Kami minta nomor telepon keluarga kamu.” Tanya Mbak Nida.
“Maaf Mbak. HP-nya saja saya tidak punya bagaimana dengan nomornya.” Jawabku.

Semua orang di kamar pengurus tertawa menertawakanku. Aku yang mengatakan hal itu tidak dipedulikan lagi. Suasana seperti dikerumuni setan-setan jahil. Aku hanya pasrah.
“Loh, kamu ini. Terus siapa yang akan bertanggung jawab tentang hal ini.” Tanya Mbak Jazil semakin serius.

Aku semakin terdiam, aku tidak tahu harus berkata apa. Suasana hening, tanpa ada seseorang pun yang angkat bicara.
“Kalau gitu, terpaksa kamu harus diskorsing.” Kata Mbak Shena memecahkan kesunyian.
“Maksudnya gimana Mbak.” Tanyaku tidak mengerti.
“Maksudnya gini, kamu harus pulang ke rumah kamu selama satu bulan. Dan kalau kamu pengin balik lagi ke sini setelah satu bulan di rumah, itu boleh aja. Tapi, syaratnya kamu harus melunasi semua tunggakan kamu.” Jelas Mbak Shena.

Aku hanya terdiam dan merasa hatiku tidak menentu. Aku menahan air mataku dan perasaanku yang kacau. Aku pusing dan mulai merasa tidak dihargai.
“Maaf Mbak. Apakah harus orang-orang kaya yang belajar? Apakah harus anak-anak yang punya duit aja yang boleh nyari ilmu? Kalau misalkan harus begitu, saya hanya berterimakasih karena sebelumnya telah diperbolehkan belajar disini, karena saya sadar saya bukanlah dari golongan berdasi yang mampu membayar uang makan yang hanya sepeser dan tidak akan membuat kantong tercekik. Dan uang makan yang katanya hanya sepeser pun saya tidak bisa membayarkannya. Terimakasih, karena telah membuat saya berhenti mencari ilmu disini hanya karena tunggakan makan yang sudah saya perjuangkan mati-matian.” Kataku, lalu aku pergi dari kamar pengurus tanpa salam.

Meskipun aku telah meninggalkan kamar itu, tatapan mereka masih termenung menatap langkahku yang pergi meninggalkan mereka. Entah apa yang ada dipikiran mereka, mungkin mereka merasa iba denganku.

Memangnya ada apa dengan kertas berharga yang dianggap mata uang itu
Adakah yang lebih istimewa dari kehadirannya di dunia fana ini selain sebagai alat transaksi pembayaran
Memang, cara mendapatkannya sampai mati-matian
Tapi kalau sudah mati dan kertas itu didapatkan dengan banyak
Apa sih yang akan kalian cari lagi
Paling kalian tinggal butuh amal yang memang tidak ada hubungannya dengan kertas ingusan itu
Ya sudah kalau sudah sadar, segeralah bertaubat
Allah Maha Kaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bodoh

Bingung Membagi Waktu Untuk Menulis? Kali Ini Udah Gak Jaman! Simak 5 Cara ini

Heboh Registrasi Ulang Dari Kominfo, Berita Hoax Atau Bukan Ya?