Ramadhan berkesan


 
Siapa yang tahu takdir Tuhan
Siapa yang mampu berpaling dari semua aturan dan skenario Tuhan
Siapa yang angkuh dan mengangkat senjata perang dengan Tuhan
Semoga Anda sekalian selalu menjadi hamba yang sakinah, mawaddah, warohmah
Bagai pengantin baru yang selalu bahagia dan mengharap doa restu
Serta selalu diberikan nikmat untuk sadar, bahwa hidup itu hanya sementara
Serta untuk beribadah karena cinta karena hidup

Ramadhan adalah bulan yang sungguh mulia, karena di dalamnya terdapat malam seribu bulan. Terdapat segala aktifitas ibadah yang tidak akan ditemukan di lain waktu, dan semua amal baik ataupun buruk yang dilakukan akan mendapat balasan pahala yang berlipat ganda. Banyak orang yang menyambut kedatangannya dengan penuh senang dan suka cita, karena tidak banyak orang yang diberi kesempatan untuk menemui bulan yang suci ini. 

Pagi ini adalah awal puasa di bulan yang berkah ini, sebelum waktu imsak datang seluruh umat muslim di dunia akan mengerjakan sunah makan sakhur yang dianjurkan Rasulullah SAW.

Anak ini bernama Priya. Duduk di kelas 4 SD dan usianya baru 9 tahun. Namun, hidupnya telah banyak diwarnai bagai pelangi oleh Allah SWT. Setiap apa yang dia lakukan selalu membuat orang-orang disekitarnya berpikir kritis, karena dia selalu membuat pemahaman yang baru dan jarang dipikirkan oleh siapapun.

“Priya. Hari ini Bapak akan pergi ke sawah bersama Ibu sampai adzan maghrib. Mungkin nanti kamu akan sendirian di rumah.” Kata Ayah Priya.
“Oh iya Bapak Ibu, gak apa-apa kok. Priya janji gak akan nakal. Dan Priya akan selalu ingat Allah kalau Priya lagi puasa.” Katanya. Membuat ibunya datang mendekat lalu mendekapnya.
“Sip Priya. Kamu hebat, Allah pasti akan selalu melindungimu sayang.” Bisik ibunya di telinga mungil Priya.
“Aduh Ibu. Amin.” Katanya. Sambil berbisik juga.
“Ya sudah Priya. Diselesaikan dulu makannya. Ntar jangan tidur lagi ya. Ikut jamaah sholat shubuh di Masjid.” Perintah ayah.
“Oke. Siap bos.” Gurau Priya namun mengerti. Lalu menyantap dengan lahap rezeki yang telah Allah sandingkan di meja makannya pagi itu.

Adzan shubuh telah bergema, entah mengapa suasananya kali ini begitu mempesona. Banyak anak-anak yang meramaikan masjid, suasanapun semakin semarak saat para jamaah berbondong-bondong untuk berjalan-jalan ke arah terbitnya matahari setelah selesai sholat berjamaah. Suasana yang ramai ini tidak pernah terjadi sebelumnya, keindahan di pagi ini bagaikan pagi yang penuh berkah di bulan suci ini.

Priya, Ayah dan Ibunya juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan jalan-jalan pagi tersebut. Sekarang tepat pukul enam pagi, namun suasana kabut dan embun masih tebal menyelimuti. Semakin menambah kehangatan mentari yang masih bersembunyi di balik peraduannya.

Priya memisahkan diri dari langkah ayah dan ibunya, dia menemui teman-temannya yang asik memainkan petasan-petasan kecil yang semakin membuat riuh pagi itu. Karena jalanan semakin ramai, para jamaah tadi bagai semut yang tanpa digiring akan berbaris rapi dan melangkahkan kaki mereka ke arah berlawan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Namun Allah SWT berkehendak sesuatu yang harus terjadi hari itu juga. Gerbong kereta api melintas seketika dan menghantam sebagian dari jamaah tadi yang hendak pulang ke rumah masing-masing. Suasana semakin gempar, banyak teriakan innalillahi dan Allahu akbar yang menyelimuti pagi itu. Semuanya langsung berlarian ke arah orang-orang yang tadi ditubruk kereta setelah kereta itu melesat meninggalkan tragedi naas.

Priya yang masih asik bermain petasan bersama teman-temannya tidak menghiraukan apa yang terjadi. Seorang ibu-ibu mendekati Priya dan teman-temannya untuk melihat kejadian ironis tadi.

“Ayah. Ibu.” Teriakan Priya membuat semuanya menatap ke arahnya. Semuanya langsung mendekati Priya dan memeluknya, mereka merasa kasihan.
“Priya. Yang sabar ya, ini sudah takdir dari Allah.” Kata seorang bapak yang masih merengkuhnya.

Priya diajak pulang oleh Ibu-ibu di dekatnya. Bapak-bapak membereskan tempat kejadian tadi. Sungguh akhir yang tidak pernah disangka oleh siapapun. Inilah kuasa Allah SWT.

Priya menangis dan terus menangis, dia ingat kata Ayah dan ibunya tadi. Mereka akan pergi sampai maghrib. Tapi kini kenyataannya, kedua orang tuanya pergi untuk selama-lamanya. Allah memang tidak pernah memberikan kita tanda-tanda yang rinci tentang masa depan kita, namun dari situlah kita harus belajar menghargai waktu.

Siapa yang tahu akan berakhir
Dengan baik atau burukpun keadaannya, kita tidak kuasa mengetahuinya
Terkadang hidup terlalu asik dibayangkan, sampai akhirnya terlena
Membuat kita lupa pada apa yang harus kita perbuat di esok hari
Tapi beginilah adanya, semuanya sirna tanpa syukur malah kufur
Dan inilah kuasa Tuhan yang Maha Sempurna
Dia lebih tahu apa yang terbaik, tapi lakukanlah sesuatu yang terbaik
Agar kedepannya mempu menjadi yang terbaik dari yang diusahakan
Dan jangan lupa untuk selalu menghabiskan kegagalan dengan senyuman tiada tara serta berani mengambil hikmahnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bodoh

Bingung Membagi Waktu Untuk Menulis? Kali Ini Udah Gak Jaman! Simak 5 Cara ini

Heboh Registrasi Ulang Dari Kominfo, Berita Hoax Atau Bukan Ya?